Tugas Utama Untuk Sekolah berbasis Boarding School

Ini Tugas Boarding School!
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Apa sebabnya orangtua memasukkan anak ke sekolah berasrama? Banyak hal, tetapi ada dua alasan yang hampir dapat dipastikan menjadi pertimbangan orangtua. Pertama, orangtua menginginkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang anak sehingga menjadi pribadi matang, berakhlak mulia dan bertanggung-jawab. Ini berarti aspek pembentukan karakter merupakan salah satu alasan penting orangtua memasukkan anak ke sekolah berasrama. Kedua, orangtua mengharapkan pendidikan yang sepenuh waktu dari pagi hingga Subuh, setiap hari, memberi kesempatan kepada anak untuk mematangkan ilmu dalam soal agama dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Ini pun berkait dengan akhlak, tetapi menekankan perlunya anak memahami ilmunya. Tidak terkecuali orangtua yang memasukkan anaknya ke sekolah berasrama karena mengharapkan anaknya agar dapat menjadi penghafal Al-Qur’an sekaligus pengemban amanah Al-Qur’an.

Memasukkan anak ke sekolah berasrama berarti mempercayakan penuh kepada pengelola sekolah sekaligus pendamping asrama untuk mendidik anak sehingga menjadi pribadi seperti yang diharapkan. Bahkan bukan sekedar percaya. Orangtua memiliki harapan yang sangat tinggi karena menganggap bahwa Ustadz/Ustadzah maupun pendamping asrama merupakan sosok pilihan yang memiliki perhatian, kepedulian, tanggung-jawab, kemauan mendidik sekaligus bekal ilmu yang memadai. Jika hanya menginginkan anak agar cemerlang secara akademik, untuk apa “membuang” anak jauh-jauh, mengorban rasa rindu dan menghilangkan kesempatan untuk bercanda dengan anak? Ada sakit yang harus ditahan, ada rindu yang harus dikekang sejenak demi kebaikan anak kelak di kemudian hari. Sekali lagi, dari segi akhlak, agama maupun kemampuan akademiknya, tetapi terutama pada dua aspek yang pertama itu.

Ini berarti, sekolah berasrama (boarding school) memiliki tanggung-jawab besar untuk membentuk pribadi anak. Begitu masuk sekolah berasrama, pengaruh orangtua hampir tidak ada lagi. 24 jam sehari semalam, 7 hari seminggu dan 12 bulan setahun anak di bawah pengaruh dan didikan sekolah berasrama. Pada saat masuk asrama –yang itu biasanya sudah melalui seleksi dan terkadang sangat ketat– anak memang beragam keadaannya. Tetapi begitu masuk sekolah berasrama, boleh dikata baik buruknya anak ditentukan oleh proses pengasuhan, pendidikan dan pembimbingan anak oleh sekolah. Secara keseluruhan, ini merupakan proses ta’dib (pendidikan adab) yang berkelanjutan. Ini merupakan pilar penting sekolah berasrama. Salah satu ukuran keberhasilan sekolah berasrama ialah apabila anak-anak berubah menjadi lebih baik setelah masuk asrama. Bukan sebaliknya.

Nah, agar tidak terjadi hal yang kontra-produktif, sekolah berasrama perlu melakukan pengawasan terencana terhadap anak didik. Akhlak memang harus dibentuk, karakter memang perlu dibangun. Tetapi bukan berarti itu saja sudah cukup. Anak-anak itu juga perlu dipantau perkembangannya agar cepat terdeteksi manakala ada gejala yang tidak beres. Bahkan sesungguhnya, pemantauan anak ini merupakan bagian sangat penting dari proses pendidikan akhlak.

Boarding school hendaknya memantau perkembangan anak didik sehingga dapat menangani dengan segera jika sewaktu-waktu menjumpai masalah ataupun gejala masalah. Ini penting agar gejala tersebut tidak berkembang menjadi masalah yang serius, dan jika masalah sudah terjadi tidak semakin parah. Begitu mendapati masalah, sekolah berasrama harus segera melakukan koordinasi antara guru, wali kelas, wali asrama dan pendamping kamar. Langkah ini diperlukan untuk memastikan akar masalah dan penanganannya. Wali asrama merupakan pengganti orangtua selama di boarding school.

Masing-masing pihak di sekolah berasrama mencari pemecahan masalah yang tepat. Langkah yang telah dirumuskan, kemudian dijalankan sesuai tugasnya. Selanjutnya, masih tetap perlu dipantau dan dievaluasi bersama. Evaluasi diperlukan untuk melakukan perbaikan jika hasil penanganan siswa belum sesuai yang diharapkan. Karena itulah, evaluasi perlu dilakukan dengan sangat cermat.

Dari evaluasi itu juga dapat diketahui langkah mana yang paling efektif dari serangkaian langkah yang diambil. Ini perlu dicatat dengan baik. Apa manfaat pencatatan tersebut? Sekolah mempunyai rujukan jika menghadapi kasus serupa di kemudian hari. Jadi pencatatannya harus “hidup”. Bagaimana jika penanganan yang dilakukan sudah membuahkan hasil sesuai yang diharapkan? Evaluasi tetap penting untuk memperkokoh hasil. Tetap penting juga untuk memahami langkah mana yang paling efektif serta apa saja yang berperan besar terhadap keberhasilan penanganan.

Ingat! Begitu anak masuk boarding school, pengaruh orangtua hampir hilang. 24 jam sehari ia berada lingkungan terkendali bernama sekolah. Disebut lingkungan terkendali (controlled environment) karena sekolah & asrama membatasi pengaruh luar dan merencanakan kegiatan 24 jam penuh.

Bagaimana jika tidak ada program yang matang untuk pembinaan, pengendalian dan pengawasan siswa selama di asrama? Itu bukan boarding school. Berasrama tapi tanpa program yang jelas, berarti hanya sekolah yang dilengkapi rumah sewa (school with home stay). Anak-anak berada di asrama, tetapi tak memperoleh perlakuan edukatif yang mengubah sikap maupun perilaku mereka. Tak terbimbing. Auto pilot.

Saya pernah mengunjungi boarding school yang tidak wali asramanya sangat jarang menunggui asrama. Padahal ini tanggung-jawabnya. Akibatnya, program yang di atas kertas agak bagus, sama sekali tidak berjalan. Parahnya, di asrama tersebut disediakan TV non stop. Lebih ironis lagi, tidak ada pendamping asrama yang bertanggung-jawab memantau dan mengarahkan tiap-tiap anak didik anggota kamar. Jika keadaan seperti ini dibiarkan, sangat mungkin asrama justru menjadi penyebab kemerosotan akhlak maupun etos belajar anak.

Tapi kembali pada pembahasan tentang penanganan masalah, baik masih bersifat gejala maupun sudah menjadi persoalan serius di lembaga. Kapan sekolah dapat melibatkan orangtua dalam menangani masalah? Pada saat awal muncul gejala masalah, sekolah dapat meminta informasi yang bersifat pribadi (personal information) berkaitan dengan diri anak, yakni hal-hal yang berkenaan dengan keunikan pribadi anak, termasuk peristiwa khusus yang pernah dialami anak. Ini merupakan bahan pertimbangan sekolah dalam mengambil kebijakan. Sampai di sini, penanganan masih dilakukan murni oleh sekolah berasrama, tetapi sebagian pertimbangannya menggunakan informasi dari orangtua. Meskipun demikian, bisa saja sekolah meminta masukan dan pendapat orangtua. Selanjutnya, sekolah melakukan perkembangan hasil penanganan kepada orangtua sebatas yang perlu diketahui orangtua